Menumbuhkan PeDe

Nafisa, anak pertama saya ini berwatak kalem dan manut. Mudah diatur juga jarang bersikap nakal ala anak2, yah… palingan ‘nakal’ sekadarnya saja khas anak kecil. Kalau main dengan temannyapun, ia cenderung mengalah. Gak suka merebut mainan atau barang milik temannya, dan kalo giliran barangnya yang direbut dia hanya merengek pada saya atau menangis.
 
Sebenarnya Alhamdulillah ya punya anak yang manut dan mengalah begini, tapi kadang saya jadi mikir, kok nafisa ini gak berani ya.. apakah anakku ini pendiam dan pemalu alias minderan….?!
 
Membaca pengalaman salah satu ibu di TUM tentang caranya menumbuhkan kepercayaan diri anak semakin membuat saya berpikir lagi dan lagi bahwa nafisa ini memang pemalu. Pemalu sebenarnya bukan hal yang buruk apalagi untuk anak perempuan (katanya anak perempuan memang pemalu). Tapi yang terpuji adalah malu pada tempatnya.
 
Saya tidak ingin Nafisa jadi malu dan takut untuk ngapa-ngapain. Saya ingin dia tumbuh jadi anak yang berani tapi tidak sombong. Saya tidak ingin generasi kembali terulang, apa coba maksudnya hihihi, maksudnya saya ingin Nafisa punya kepercayaan diri yang lebih baik di banding saya. Maka karena hal itu saya tidak pernah me-label dia ketika marah. Saya sebut saja kesalahan dia apa agar dia ingat bahwa sikapnya adalah keliru. Hanya satu yang saya sering label, kemayu. Hahaha, dan saya rasa itu tidak apa-apa ya. Karena saya ingin dia percaya diri maka saya sering puji dia, Mbak anak pemberani, mbak anak pintar, Mbak anak rajin, dan seterusnya.
 
read more>>

Iklan

Boneka Bebek Nafisa

Lama gak nulis, karena lagi gak ada ide. Ini ada ide cerita, bukan tentang saya, tapi tentang si Mbak.

Si Mbak punya banyak mainan, tidak terlalu banyak sebenarnya, tapi ya cukup banyak untuk dia mainkan sehari-hari meskipun kini kebanyakan dari mainan itu teronggok begitu saja dalam toples mainan karena mungkin dia sudah bosan main memainkannya. Hampir semua dari mainan ini saya dapatkan gratis, biasa..mbahnya yang kasih. Maklum, cucu pertama dalam keluarga saya jadi wajarlah agak dimanja dan dipenuhi kebutuhan mainannya.

Di antara sekian banyak mainan Mbak, yang paling banyak adalah boneka. Ada sekitar 7 buah jumlahnya. Boneka paling senior yang Mbak miliki adalah boneka bebek. Bentuknya panjang dan lonjong begitu saja, saya rasa itu adalah guling kecil yang berkepala bebek. Panjangnya pas sekali jika ditimang Mbak. Boneka bebek itu pemberian mbah putrinya saat Mbak Nafisa berumur belum genap 3 bulan, wew…padahal belum bisa main ya tapi sudah dikasih mainan. Meski boneka bebek ini adalah boneka yang paling lawas Mbak miliki, tapi sampai saat ini boneka bebek inilah yang paling akrab dengan Mbak padahal ada yang lebih baru lagi.

read more>>

Pro-Kontra Imunisasi

bukan ingin ngompori pro-imunisasi..
hanya ingin mengajak semua berpikir jernih dan ilmiah ttg imunisasi dengan membaca literatur yang ilmiah ttg hal tersebut
karena saya sendiri juga baru mencoba belajar untuk ilmiah…

http://muslimafiyah.com/permasalahan-imunisasi-dan-vaksinasi-tuntas-%E2%80%93insya-allah.html
http://muslimafiyah.com/haruskah-kedokteran-modern-dan-thibbun-nabawi-dipertentangkan.html
http://muslimafiyah.com/fatwa-fatwa-ulama-keterangan-para-ustadz-dan-ahli-medis-di-indonesia-tentang-bolehnya-imunisasi-vaksinasi.html

Si Kakek dan Si Pemuda

Selepas isya’ saat pulang dari kajian rutin ba’dha maghrib, saya sering melihat kakek tua itu. Berjalan memanggul dagangannya. Sepertinya berjualan tahu goreng, ah saya tidak tahu karena sekalipun belum pernah beli. Kakek itu sudah tua sekali, saya taksir usianya mungkin kurang lebih 70 tahun.

Jalannya sudah membungkuk, semakin bungkuk karena memanggul dagangan tahunya dan beliau berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Kadang terpikir oleh saya, kemanakah anak-anaknya yang membiarkan orang setua itu berjualan berjalan kaki sendirian di malam hari. Husnudzon, mungkin kakek tua itu yang memang giat bekerja.

Kali lain saya melihat seorang pemuda yang cacat fisiknya, kedua tangannya kecil. Satu waktu saya melihat dia berkendaraan menggunakan sepeda yang sudah dimodifikasi sehingga sepeda tersebut memiliki gerobak kecil di sebelahnya. Ya mungkin modelnya seperti TOSSA, hanya saja ini pakai sepeda dan gerobak untuk barang terletak di samping bukan di belakang kendaraan.

Dengan sepedanya itu dia berkendara berjualan ikan pindang dalam besek-besek kecil. Setelah lama tidak melihatnya, di waktu lain saya lihat ia mangkal di depan toko bekas Indomaret di bawah sebuah pohon juga dengan ‘sepeda TOSSA’-nya, dia berjualan bensin. Mungkin ia sekarang beralih pekerjaan.

read more>>

Kapan Kita Siap Mati?

kapan kita siap untuk mati?

kapan kita merasa siap menghadapi kematian?

ketika sudah jadi nenek/ kakek kelak?

atau bahkan beberapa tahun ke depan?

namun jika kita telah sampai waktu yang katanya kita siap menghadapi kematian, maka pasti kita ingin menundanya lebih lama lagi.

kita ingin lebih lama lagi tinggal di dunia ini.

lalu sebenarnya kapan kita siap untuk mati??!!

kita tak akan pernah siap menjemput kematian jika pikiran kita masih terus berputar pada hasrat dunia.

kaya. rumah mewah. anak-anak yang lucu. cucu-cucu yang mengemaskan.

kita selamanya tak akan pernah siap menghadapi kematian jika pikiran kita selalu penuh dengan ambisi dunia tapi kosong akan ambisi akhirat.

kita siap untuk mati ketika kita siap meninggalkan perhiasan dunia dan merindu akhirat.

merenung tentang kematian, obat tepat penyakit hati.

 

***

Abis baca pengalaman transplantasi hati/ liver pak Dahlan Iskan di sini. Oh, sangat mahalnya kesehatan. Ketika kita merasa miskin di dunia ini, renungkan bahwa ternyata kita punya liver/ hati yang sehat, jantung, pankreas,rahim, usus, lambung yang semuanya diberi kesehatan oleh Allah. Betapa nikmat yang teramat besar. Alhamdulillaahilladzii bini’matihi tahthimushsholihaat.

Tentang Nafisa

Terinspirasi dari cerpennya mas Ahmad yang udah pinter nulis dan ngetik-ngetik. Tapi karena Nafisa belum bisa ngetik dan menulis dengan lancar, biar umm-nya aja deh yang bikinin cerpennya, hehehe…

Assalaamu’alaikum teman-teman, perkenalkan namaku Nafisah Az-Zahra. Umurku 33 bulan, berarti 2,5 tahun lebih ya.. ayooo coba di hitung lebihnya berapa…, hehee. Aku biasa memanggil diriku dengan sebutan ‘Mbak’, begitu juga Ummi dan Abi memanggilku.

Kata ummi, Mbak anak pinter karena rajin belajar, anak yang sholehah karena nurut Ummi sama Abi, dan anak yang rajin karena habis makan jajanan sampahnya Mbak buang sendiri ke tempat sampah, juga habis minum susu gelasnya Mbak taruh sendiri di dapur. Eh, Ummi juga bilang kalo Mbak anak kuat, anak pemberani, anak bertanggung jawab, anak cantik masyaAllah, anak apalagi ya…pokoknya banyak deh. Ummi gak pernah bilang Mbak anak nakal dan bandel meskipun kadang mulut ummi udah gatel deh ngucapin kata itu kalo Mbak emang lagi ngeyel dan nakal, ditambah lagi ummi yang lagi capek dan banyak kerjaan rumah.

read more>>

Cerita dari Sepotong Risoles

Kejadian ini begitu membuat saya ingin tertawa, kesal, sekaligus kecewa, tapi akhirnya membuahkan rasa senang dan tentram dalam hati.

Suatu hari, saya mempunyai rencana untuk jualan kecil-kecilan di kantin barunya BEM STDI Imam Syafi’i. Lumayan pikir saya, bisa ada tambahan masukan untuk belanja sehari-hari dan ikut meramaikan isi kantin yang sebagian besar ummahat lain juga menitipkan jajanan buatan mereka sendiri. Dan juga ada rasa puas dalam hati ternyata jajanan yang kita buat ternyata disukai pembeli.

Akhirnya saya pilih risoles. Sebenarnya, sebelumnya saya sudah menjajakan lumpia dan Alhamdulillah laris, namun saya ingin yang beda dan agak mahal sedikit sehingga keuntungan jadi lebih banyak karena risoles sendiri bikinnya cukup repot dibanding lumpia yang saya buat sebelumnya. Juga karena modal awalnya lebih besar. Saya bandrol dengan harga 1000 per potong risoles.

read more>>