Arsip Kategori: Nasehat

Si Kakek dan Si Pemuda

Selepas isya’ saat pulang dari kajian rutin ba’dha maghrib, saya sering melihat kakek tua itu. Berjalan memanggul dagangannya. Sepertinya berjualan tahu goreng, ah saya tidak tahu karena sekalipun belum pernah beli. Kakek itu sudah tua sekali, saya taksir usianya mungkin kurang lebih 70 tahun.

Jalannya sudah membungkuk, semakin bungkuk karena memanggul dagangan tahunya dan beliau berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Kadang terpikir oleh saya, kemanakah anak-anaknya yang membiarkan orang setua itu berjualan berjalan kaki sendirian di malam hari. Husnudzon, mungkin kakek tua itu yang memang giat bekerja.

Kali lain saya melihat seorang pemuda yang cacat fisiknya, kedua tangannya kecil. Satu waktu saya melihat dia berkendaraan menggunakan sepeda yang sudah dimodifikasi sehingga sepeda tersebut memiliki gerobak kecil di sebelahnya. Ya mungkin modelnya seperti TOSSA, hanya saja ini pakai sepeda dan gerobak untuk barang terletak di samping bukan di belakang kendaraan.

Dengan sepedanya itu dia berkendara berjualan ikan pindang dalam besek-besek kecil. Setelah lama tidak melihatnya, di waktu lain saya lihat ia mangkal di depan toko bekas Indomaret di bawah sebuah pohon juga dengan ‘sepeda TOSSA’-nya, dia berjualan bensin. Mungkin ia sekarang beralih pekerjaan.

read more>>

Iklan

Kapan Kita Siap Mati?

kapan kita siap untuk mati?

kapan kita merasa siap menghadapi kematian?

ketika sudah jadi nenek/ kakek kelak?

atau bahkan beberapa tahun ke depan?

namun jika kita telah sampai waktu yang katanya kita siap menghadapi kematian, maka pasti kita ingin menundanya lebih lama lagi.

kita ingin lebih lama lagi tinggal di dunia ini.

lalu sebenarnya kapan kita siap untuk mati??!!

kita tak akan pernah siap menjemput kematian jika pikiran kita masih terus berputar pada hasrat dunia.

kaya. rumah mewah. anak-anak yang lucu. cucu-cucu yang mengemaskan.

kita selamanya tak akan pernah siap menghadapi kematian jika pikiran kita selalu penuh dengan ambisi dunia tapi kosong akan ambisi akhirat.

kita siap untuk mati ketika kita siap meninggalkan perhiasan dunia dan merindu akhirat.

merenung tentang kematian, obat tepat penyakit hati.

 

***

Abis baca pengalaman transplantasi hati/ liver pak Dahlan Iskan di sini. Oh, sangat mahalnya kesehatan. Ketika kita merasa miskin di dunia ini, renungkan bahwa ternyata kita punya liver/ hati yang sehat, jantung, pankreas,rahim, usus, lambung yang semuanya diberi kesehatan oleh Allah. Betapa nikmat yang teramat besar. Alhamdulillaahilladzii bini’matihi tahthimushsholihaat.

Resep Hidup Bahagia

Bahagia. Siapa pula yang tak ingin bahagia? Setiap orang berjuang keras untuk memperoleh kebahagiaan hidup. Sampai berpeluh, berpayah-payah, mengorbankan agamanya. Namun ternyata resep kebahagiaan itu sendiri sangat sederhana. Beruntunglah orang-orang yang mampu memprektekkannya.
***