Arsip Kategori: Catatan Hati

Sedang Menunggu

Saat ini sedang masa menunggu.

40 weeks 1 day sudah terlewati, tapi belum juga ada gelombang rahim. Mungkin si dedek bayi masih betah ya di rahim ummi. Mbahnya Mbak Nafisa udah hampir sepekan datang, Alhamdulillah memang mau lama berlibur di sini, jadi sama-sama menunggu juga.

Mbak Nafisa juga udah sering tanya-tanya ke dedek bayi, “dedek bayi…kapan keluar? mbak udah nungguin nih, mbah putri dan mbah kakung juga udah dateng…”, begitu katanya.

Lagi gak bisa banyak nulis, nanti2 aja deh ceritanya, insyaAllah disambung lagi.

Semoga ALlah memudahkan segalanya..

Aammiin…

Iklan

Nafisa Genap Tiga Tahun

Tanggal tiga Juni kemarin, Nafisa genap berumur tiga tahun. Tentu saja tak ada ulang tahun, yang terasa istimewa dalam hati saya adalah perasaan yang mengharu biru. Terharu, gak kerasa banget si Mbak sekarang sudah besar, sudah pinter masya Allah. Rasanya baru kemarin saja saya melahirkan dia.

Waktu malam hari tanggal dua kemarin, pikiran saya nostalgia pada kenangan tahun 2009 ketika saya melahirkan Nafisa. Saya bilang pada suami, “Nih, bi, pas malem jam segini ini aku ada di rumah sakit sama mamah dan bapak, aku cek lab sendiri, aku tanda tangani surat kesediaan operasi sesar sendiri…” Hiks! Hiks! “Terus besok paginya sesar untuk ngelahirkan Nafisa…” *ceritaanya udh mo nangis*

Sediiih…banget jika ingat kenangan itu, perjuangan saya yang jauh dari suami yang harus menerima kenyataan melahirkan dengan persalinan normal tidaklah memungkinkan. Dan setelah saya berikhtiar agar bisa melahirkan normal, akhirnya saya harus menyerah dengan takdir yang telah tertulis.

Rasa sedih itu sebenarnya bukan semata karena harus SC, melainkan karena tidak ada suami di sisi saya. Tak ada suami yang bisa saya ajak berbagi kegundahan. Saat akan melahirkan Mba tiga tahun silam, kami memutuskan melahirkan di kota orang tua saya yang beda provinsi dengan tempat tinggal kami. Dengan bermacam pertimbangan; belum pengalaman melahirkan dan momong anak, ingin menyenangkan orang tua dan kerabat, dan yang lainnya.

read more>>

Anak Baik

Umi: “Mbak tadi kenapa nangis?”

Nafisa: “Tangannya dipukul Si H…”

Umi: “Kok Mbak ga bales mukul..?”

Nafisa: “Kan Mbak anak baik…”

^^
Saya bangga dengan Nafisa
Namun di sisi lain kadang saya bingung sendiri, apa Mbak akan mengalah terus kalau di nakali temannya, ataukah saya harus mengajari agar ia membalas perlakuan temannya?

Mau Kaya atau Miskin??

Kalau ditanya, manakah yang lebih mulia, orang miskin yang bersabar ataukah orang kaya yang bersyukur??

Apa jawabnya??

Ulama berbeda pendapat akan hal ini, ada yang berpendapat orang kaya yang bersyukurlah yang lebih utama karena ia di karuniai Allah kelapangan rezeki sehingga terbukalah pintu kemudahan menuju kemaksiatan, namun ia lebih memilih bertakwa pada Allah denagn menahan hawa nafsunya. Sebab inilah yang menyebabkan orang kaya yang bersuyukur lebih mulia.

Ulama lain berpendapat yang lebih mulia adalah Si miskin yang bersabar karena ia mampu bersabar dengan kesulitan yang menghimpitnya dan ganjaran bagi orang yang bersabar sangatlah besar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, bahwa siapapun mereka orang kaya ataukah orang miskin, yang lebih utama adalah orang yang paling bertakwa di antara mereka.

dan sekarang…
kalau ditanya, Anda memilih yang mana? Menjadi orang miskin yang bersabar atau orang kaya yang bersyukur???
heee….
Silahkan pikir sendiri.

Menumbuhkan PeDe

Nafisa, anak pertama saya ini berwatak kalem dan manut. Mudah diatur juga jarang bersikap nakal ala anak2, yah… palingan ‘nakal’ sekadarnya saja khas anak kecil. Kalau main dengan temannyapun, ia cenderung mengalah. Gak suka merebut mainan atau barang milik temannya, dan kalo giliran barangnya yang direbut dia hanya merengek pada saya atau menangis.
 
Sebenarnya Alhamdulillah ya punya anak yang manut dan mengalah begini, tapi kadang saya jadi mikir, kok nafisa ini gak berani ya.. apakah anakku ini pendiam dan pemalu alias minderan….?!
 
Membaca pengalaman salah satu ibu di TUM tentang caranya menumbuhkan kepercayaan diri anak semakin membuat saya berpikir lagi dan lagi bahwa nafisa ini memang pemalu. Pemalu sebenarnya bukan hal yang buruk apalagi untuk anak perempuan (katanya anak perempuan memang pemalu). Tapi yang terpuji adalah malu pada tempatnya.
 
Saya tidak ingin Nafisa jadi malu dan takut untuk ngapa-ngapain. Saya ingin dia tumbuh jadi anak yang berani tapi tidak sombong. Saya tidak ingin generasi kembali terulang, apa coba maksudnya hihihi, maksudnya saya ingin Nafisa punya kepercayaan diri yang lebih baik di banding saya. Maka karena hal itu saya tidak pernah me-label dia ketika marah. Saya sebut saja kesalahan dia apa agar dia ingat bahwa sikapnya adalah keliru. Hanya satu yang saya sering label, kemayu. Hahaha, dan saya rasa itu tidak apa-apa ya. Karena saya ingin dia percaya diri maka saya sering puji dia, Mbak anak pemberani, mbak anak pintar, Mbak anak rajin, dan seterusnya.
 
read more>>

Si Kakek dan Si Pemuda

Selepas isya’ saat pulang dari kajian rutin ba’dha maghrib, saya sering melihat kakek tua itu. Berjalan memanggul dagangannya. Sepertinya berjualan tahu goreng, ah saya tidak tahu karena sekalipun belum pernah beli. Kakek itu sudah tua sekali, saya taksir usianya mungkin kurang lebih 70 tahun.

Jalannya sudah membungkuk, semakin bungkuk karena memanggul dagangan tahunya dan beliau berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Kadang terpikir oleh saya, kemanakah anak-anaknya yang membiarkan orang setua itu berjualan berjalan kaki sendirian di malam hari. Husnudzon, mungkin kakek tua itu yang memang giat bekerja.

Kali lain saya melihat seorang pemuda yang cacat fisiknya, kedua tangannya kecil. Satu waktu saya melihat dia berkendaraan menggunakan sepeda yang sudah dimodifikasi sehingga sepeda tersebut memiliki gerobak kecil di sebelahnya. Ya mungkin modelnya seperti TOSSA, hanya saja ini pakai sepeda dan gerobak untuk barang terletak di samping bukan di belakang kendaraan.

Dengan sepedanya itu dia berkendara berjualan ikan pindang dalam besek-besek kecil. Setelah lama tidak melihatnya, di waktu lain saya lihat ia mangkal di depan toko bekas Indomaret di bawah sebuah pohon juga dengan ‘sepeda TOSSA’-nya, dia berjualan bensin. Mungkin ia sekarang beralih pekerjaan.

read more>>

Kapan Kita Siap Mati?

kapan kita siap untuk mati?

kapan kita merasa siap menghadapi kematian?

ketika sudah jadi nenek/ kakek kelak?

atau bahkan beberapa tahun ke depan?

namun jika kita telah sampai waktu yang katanya kita siap menghadapi kematian, maka pasti kita ingin menundanya lebih lama lagi.

kita ingin lebih lama lagi tinggal di dunia ini.

lalu sebenarnya kapan kita siap untuk mati??!!

kita tak akan pernah siap menjemput kematian jika pikiran kita masih terus berputar pada hasrat dunia.

kaya. rumah mewah. anak-anak yang lucu. cucu-cucu yang mengemaskan.

kita selamanya tak akan pernah siap menghadapi kematian jika pikiran kita selalu penuh dengan ambisi dunia tapi kosong akan ambisi akhirat.

kita siap untuk mati ketika kita siap meninggalkan perhiasan dunia dan merindu akhirat.

merenung tentang kematian, obat tepat penyakit hati.

 

***

Abis baca pengalaman transplantasi hati/ liver pak Dahlan Iskan di sini. Oh, sangat mahalnya kesehatan. Ketika kita merasa miskin di dunia ini, renungkan bahwa ternyata kita punya liver/ hati yang sehat, jantung, pankreas,rahim, usus, lambung yang semuanya diberi kesehatan oleh Allah. Betapa nikmat yang teramat besar. Alhamdulillaahilladzii bini’matihi tahthimushsholihaat.