Arsip Kategori: Buah Hati

Fauzan Dikhitan

Eh, siapa itu Fauzan??

Mmmm…, blm sempat aja posting cerita tentang kelahiran adiknya Mbak Nafisa. Adik Mbak Nafisa alhamdulilah sudah lahir tanggal 15 September yang lalu, namanya Fauzan Abdurrahman dan sekarang usianya 49 hari.

Alhamdulillah, Fauzan sudah disunat!!

‘Eh, apa ga kesakitan masih kecil gitu, te?’, begitu reaksi terkejut tetangga saya waktu saya pertama kali bercerita rencana saya dan suami untuk meng-khitankan Fauzan.

Awalnya kami melihat ada beberapa teman yang anak laki-lakinya dikhitan saat bayi, ada yang berumur beberapa bulan bahkan ada yang ketika berumur 7 hari. Sebelum Fauzan lahir, kamipun bertekad untuk meng-khitan anak kami –jika laki-laki-saat masih bayi. Apa alasannya, katanya lebih cepat sembuh. Apa iya ya…

Ada rasa ragu, benarkah tidak apa-apa dikhitan ketika masih bayi? Apa tidak berefek negatif bagi fisik maupun psikisnya? Sayapun tanya kesana-kesini pada teman yang punya anak laki2. Ada teman yang menyarankan khitan saja segera karena katanya kalau masih bayi lebih mudah perawatannya. Mungkin ini berdasarkan pengalamannya saat anaknya kurleb umur 7 tahun dikhitan, mungkin dia agak kerepotan.Ada lagi teman di Jogja menyarankan saya untuk berkonsultasi dulu dengan dokter. Tiba-tiba saya ingat grup RFC di facebook yang saya ikuti, kenapa tidak tanya disitu saja, kan yang mengampu dokter-dokter, dokter anaknya juga ada. Akhirnya berkunjung ke grup, tanya tentang sunat bagi bayi. Oh, ternyata sudah banyak dibahas, saya disuruh search saja. Tereeeeeng…dapatlah artikel sunat pada anak yang ditulis oleh dokter bedah. Siip..alhamdulilah. Kesimpulannya, tidak apa-apa khitan ketika bayi, bahkan ada yang komen juga bayinya umur 9 hari ketika dikhitan. Lega… akhirnya bulat keputusan mengkhitan.

read more>>

Iklan

Sedang Menunggu

Saat ini sedang masa menunggu.

40 weeks 1 day sudah terlewati, tapi belum juga ada gelombang rahim. Mungkin si dedek bayi masih betah ya di rahim ummi. Mbahnya Mbak Nafisa udah hampir sepekan datang, Alhamdulillah memang mau lama berlibur di sini, jadi sama-sama menunggu juga.

Mbak Nafisa juga udah sering tanya-tanya ke dedek bayi, “dedek bayi…kapan keluar? mbak udah nungguin nih, mbah putri dan mbah kakung juga udah dateng…”, begitu katanya.

Lagi gak bisa banyak nulis, nanti2 aja deh ceritanya, insyaAllah disambung lagi.

Semoga ALlah memudahkan segalanya..

Aammiin…

Nafisa Genap Tiga Tahun

Tanggal tiga Juni kemarin, Nafisa genap berumur tiga tahun. Tentu saja tak ada ulang tahun, yang terasa istimewa dalam hati saya adalah perasaan yang mengharu biru. Terharu, gak kerasa banget si Mbak sekarang sudah besar, sudah pinter masya Allah. Rasanya baru kemarin saja saya melahirkan dia.

Waktu malam hari tanggal dua kemarin, pikiran saya nostalgia pada kenangan tahun 2009 ketika saya melahirkan Nafisa. Saya bilang pada suami, “Nih, bi, pas malem jam segini ini aku ada di rumah sakit sama mamah dan bapak, aku cek lab sendiri, aku tanda tangani surat kesediaan operasi sesar sendiri…” Hiks! Hiks! “Terus besok paginya sesar untuk ngelahirkan Nafisa…” *ceritaanya udh mo nangis*

Sediiih…banget jika ingat kenangan itu, perjuangan saya yang jauh dari suami yang harus menerima kenyataan melahirkan dengan persalinan normal tidaklah memungkinkan. Dan setelah saya berikhtiar agar bisa melahirkan normal, akhirnya saya harus menyerah dengan takdir yang telah tertulis.

Rasa sedih itu sebenarnya bukan semata karena harus SC, melainkan karena tidak ada suami di sisi saya. Tak ada suami yang bisa saya ajak berbagi kegundahan. Saat akan melahirkan Mba tiga tahun silam, kami memutuskan melahirkan di kota orang tua saya yang beda provinsi dengan tempat tinggal kami. Dengan bermacam pertimbangan; belum pengalaman melahirkan dan momong anak, ingin menyenangkan orang tua dan kerabat, dan yang lainnya.

read more>>

Anak Baik

Umi: “Mbak tadi kenapa nangis?”

Nafisa: “Tangannya dipukul Si H…”

Umi: “Kok Mbak ga bales mukul..?”

Nafisa: “Kan Mbak anak baik…”

^^
Saya bangga dengan Nafisa
Namun di sisi lain kadang saya bingung sendiri, apa Mbak akan mengalah terus kalau di nakali temannya, ataukah saya harus mengajari agar ia membalas perlakuan temannya?

Menumbuhkan PeDe

Nafisa, anak pertama saya ini berwatak kalem dan manut. Mudah diatur juga jarang bersikap nakal ala anak2, yah… palingan ‘nakal’ sekadarnya saja khas anak kecil. Kalau main dengan temannyapun, ia cenderung mengalah. Gak suka merebut mainan atau barang milik temannya, dan kalo giliran barangnya yang direbut dia hanya merengek pada saya atau menangis.
 
Sebenarnya Alhamdulillah ya punya anak yang manut dan mengalah begini, tapi kadang saya jadi mikir, kok nafisa ini gak berani ya.. apakah anakku ini pendiam dan pemalu alias minderan….?!
 
Membaca pengalaman salah satu ibu di TUM tentang caranya menumbuhkan kepercayaan diri anak semakin membuat saya berpikir lagi dan lagi bahwa nafisa ini memang pemalu. Pemalu sebenarnya bukan hal yang buruk apalagi untuk anak perempuan (katanya anak perempuan memang pemalu). Tapi yang terpuji adalah malu pada tempatnya.
 
Saya tidak ingin Nafisa jadi malu dan takut untuk ngapa-ngapain. Saya ingin dia tumbuh jadi anak yang berani tapi tidak sombong. Saya tidak ingin generasi kembali terulang, apa coba maksudnya hihihi, maksudnya saya ingin Nafisa punya kepercayaan diri yang lebih baik di banding saya. Maka karena hal itu saya tidak pernah me-label dia ketika marah. Saya sebut saja kesalahan dia apa agar dia ingat bahwa sikapnya adalah keliru. Hanya satu yang saya sering label, kemayu. Hahaha, dan saya rasa itu tidak apa-apa ya. Karena saya ingin dia percaya diri maka saya sering puji dia, Mbak anak pemberani, mbak anak pintar, Mbak anak rajin, dan seterusnya.
 
read more>>

Boneka Bebek Nafisa

Lama gak nulis, karena lagi gak ada ide. Ini ada ide cerita, bukan tentang saya, tapi tentang si Mbak.

Si Mbak punya banyak mainan, tidak terlalu banyak sebenarnya, tapi ya cukup banyak untuk dia mainkan sehari-hari meskipun kini kebanyakan dari mainan itu teronggok begitu saja dalam toples mainan karena mungkin dia sudah bosan main memainkannya. Hampir semua dari mainan ini saya dapatkan gratis, biasa..mbahnya yang kasih. Maklum, cucu pertama dalam keluarga saya jadi wajarlah agak dimanja dan dipenuhi kebutuhan mainannya.

Di antara sekian banyak mainan Mbak, yang paling banyak adalah boneka. Ada sekitar 7 buah jumlahnya. Boneka paling senior yang Mbak miliki adalah boneka bebek. Bentuknya panjang dan lonjong begitu saja, saya rasa itu adalah guling kecil yang berkepala bebek. Panjangnya pas sekali jika ditimang Mbak. Boneka bebek itu pemberian mbah putrinya saat Mbak Nafisa berumur belum genap 3 bulan, wew…padahal belum bisa main ya tapi sudah dikasih mainan. Meski boneka bebek ini adalah boneka yang paling lawas Mbak miliki, tapi sampai saat ini boneka bebek inilah yang paling akrab dengan Mbak padahal ada yang lebih baru lagi.

read more>>

Pro-Kontra Imunisasi

bukan ingin ngompori pro-imunisasi..
hanya ingin mengajak semua berpikir jernih dan ilmiah ttg imunisasi dengan membaca literatur yang ilmiah ttg hal tersebut
karena saya sendiri juga baru mencoba belajar untuk ilmiah…

http://muslimafiyah.com/permasalahan-imunisasi-dan-vaksinasi-tuntas-%E2%80%93insya-allah.html
http://muslimafiyah.com/haruskah-kedokteran-modern-dan-thibbun-nabawi-dipertentangkan.html
http://muslimafiyah.com/fatwa-fatwa-ulama-keterangan-para-ustadz-dan-ahli-medis-di-indonesia-tentang-bolehnya-imunisasi-vaksinasi.html