Anak Baik

Umi: “Mbak tadi kenapa nangis?”

Nafisa: “Tangannya dipukul Si H…”

Umi: “Kok Mbak ga bales mukul..?”

Nafisa: “Kan Mbak anak baik…”

^^
Saya bangga dengan Nafisa
Namun di sisi lain kadang saya bingung sendiri, apa Mbak akan mengalah terus kalau di nakali temannya, ataukah saya harus mengajari agar ia membalas perlakuan temannya?

Iklan

Ditandai:, , ,

12 thoughts on “Anak Baik

  1. Ummu Yazid Juni 6, 2012 pukul 8:21 pm Reply

    Kalau ana yang ada dalam posisi de wiwin, ana akan bertindak sebagai berikut:

    1. Memberitahukan dengan kata-kata yang bisa dia cerna seumuran dia yang intinya “tidak membalas pukulan, bukan berarti kita terlalu lemah untuk membalas, sehingga kita bisa dijadikan sasaran empuk bulan-bulanan…bisa jadi kita punya peluang besar untuk membalas, bahkan lebih menyakitkan daripada yang telah dia lakukan…namun karena kita sedang berusaha:

    – mengendalikan diri untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan, meskipun qishaash itu benar adanya.
    – belajar bersabar selama itu belum terlalu memberikan madharat bagi yang dilukai. Beda halnya kalau memang sudah menimbulkan madharat, ya kita mau gak mau harus turun tangan…anak kecil gitu kan tingkat mandirinya pasti beda dengan anak yang udah gede dalam hal kecakapan menangani masalah.

    2. Mengatakan ke anak yang pemukul sembari mengajarkan dia dan anak kita tentang pelajaran empati, “fulaan…kamu tahu kan kalau dipukul itu sakit…. Kamu mau gak kalau kamu tiba-tiba dipukul ibu/bapakmu? kalau kamu tahu itu sakit dan kamu gak suka dipukul, kenapa kamu suka pukul orang lain??!! orang lain juga pasti kesakitan dan gak akan suka digitukan.”

    3. Mengajarkan kepada anak kita tentang konsep pelaku keburukan ==> masuk neraka, temennya syaithan…pelaku kebaikan ==> disayang Allah, masuk ke surga, yang nantinya si anak biasanya akan mengutarakan ke temannya dengan redaksi perkataan yang mirip dengan apa yang kita sampaikan. Ini juga mengajarkan anak kita untuk bertindak asertif dengan cara yang baik…bukan asertif tapi agresif “Fulaan, kamu tahu gak….anak nakal itu disukai setan dan jadi temennya setan…setan itu tempatnya di neraka. Kamu pasti gak mau kan berteman sama setan di neraka yang panasnya bisa bikin kamu tersiksa? kita jadi anak baik aja, pasti Allah akan sayang sama kita, dan anak baik itu akan dimasukkan ke surga…[sambil dicritain tuh tentang keindahan surga dan kengerian neraka biar dia merasa teriming-imingi hatinya untuk senantiasa mendamba keindahan nikmat di surga yang sempurna].”

    4. Terkadang…mereka tidak membalas atas berbagai macam alasan meskipun hati mereka sebenarnya gondok setengah mati….yang ada malah kadang mereka jadi uring-uringan mirip stress gak jelas gitu, mangkel tapi karena terpenjara “kode etik untuk jangan membalas”, jadinya kayak benci tertahan, malah jadi nangis mangkel gitu hehehe….maka kalau ana akan memberi pengertian seperti, “umm bisa merasakan apa yang kamu rasakan…tentu sakit dibegitukan…bahkan mungkin kamu ingin membalas dengan perbuatan yang serupa. Akan tetapi, bersikaplah tegar…bersabar dan memaafkan…itu yang paling utama, meskipun itu begitu sulit diterima jiwa…namun jika memang itu terlalu melukai fisikmu [fisik loh ya…bukan hati]…balaslah dengan yang setimpal, jangan lebih dari itu. Akan tetapi, ingat selalu! bersabar dan memaafkan itu lebih utama dan lebih mendekatkan kita ke surga Insya Allah…”

    Tadi ada yang mau ana tulis lagi kok lupa ya…sambil mikir….

  2. Ummu Yazid Juni 6, 2012 pukul 8:27 pm Reply

    Yang intinya, sebetulnya membedakan pemahaman yang kita tanamkan pada anak bahwa pada dasarnya bersabar dan memaafkan, bahkan mendoakan hidayah bagi pelaku keburukan atas diri kita itu jauh lebih utama dan jauh lebih dekat ke surga-Nya…namun ada kalanya juga kita boleh membalas penganiayaan fisik darinya, sekadar apa yang telah dia lakukan atas diri kita…tidak lebih.

    • Ummu Nafisa Juni 7, 2012 pukul 11:37 am Reply

      syukron masukannya mba fa..
      Iya, ana juga udah memberi pengertian sama si Mbak, ttg konsep anak baik nanti disayang Allah, kalo gak baik nanti ALlah bisa marah.

  3. cizkah Juni 12, 2012 pukul 4:00 pm Reply

    Kalo suami ana, mengajarkan untuk membalas dan kuat (maklum cowok) :D, sedangkan ana mengimbangi, kalo gak sengaja gak usah dibalas, kalau ziyad maafin itu lebih baik, balasannya gak boleh lebih sakit dst 😀

  4. mutianova Juni 12, 2012 pukul 10:28 pm Reply

    Pernah dibahas di SHS. Kalo ga salah, ada dokumennya juga di RFC de.
    Ana setuju dengan kebanyakan ummahat untuk membalas de. Agar anak tidak punya kecenderungan lemah dan anak yang membully tahu bahwa perbuatannya bisa dibalas. Atau minimal ajarkan anak teriak minta tolong agar guru dan orang tua tahu kondisi anak butuh pertolongan.
    Karena kasus bully itu bisa ringan sampe parah. Ada anak yang suka dorong temennya hingga jatuh bahkan nyebur got. Waktu dia dorong anak teman ana, ana pegang tangan anak teman ana dan bantu dia mendorong anak yang membully pelan2. Kaget tu anak dan beringsut pelan2 karena anak2 kami punya wibawa dan harga dirinya dibela.
    Sofia juga pernah mengalami hal serupa. Direbut mainannya, diteriakin, dipukul oleh anak yang iri hingga ditabark mobil2an dengan sengaja. Ortunya sih pasti udah keder duluan sama eyangnya sofia dan marahin anaknya. Mulanya ana diam tapi perilaku anak tersebut tidak berubah. Jadi ana ajarkan sofia membalas agar sofia senang harga dirinya dibela dan haknya ditempatkan dengan benar. Jika direbut mainannya, ya diambil lagi. Bila didorong, balas pegang pelan2 sambil bilang ke temennya : nih sofia aja pegang kamu pelan2. Tapi gitu aja, sofia udah seneng lho.
    Coba kalo anak ga dibela, dia pasti sedih harga dirinya rendah dan haknya tidak ditempatkan dengan benar.

  5. mutianova Juni 12, 2012 pukul 10:35 pm Reply

    Di samping itu, anak juga perlu diajarkan konsep memaaafkan : kamu boleh membalas nak, itu hak kamu.Tapi kalo ga membalas nanti dapat pahala dan surga dari Allah lhoo
    Konsep memaafkan juga diterapkan saat temannya tidak sengaja nyikut atau nginjek.
    Gitu de yang ana pahami dari diskusi ummahat. Semoga bisa menjadi salah satu pertimbangan.

    Alhamdulillah ana udah dapat acc ayahnya sofia untuk mengikutkan sofia bela diri sejak dini

    • Ummu Nafisa Juni 17, 2012 pukul 12:24 am Reply

      wah pengetahuan baru, ana sebenenya cenderung pengen ngajarin membalas pelan gitu mbak. Tapi memaafkan jg baik ya, makanya bingung…. Iya deh, coba di bilangin nanti ke Abinya, diskusi dlu.
      Jazaakillaahu khoir mba muti..

  6. siska Juni 16, 2012 pukul 8:38 am Reply

    eh…hati2 tia…tentang bela diri ini…ana blum sempet sih nulis tulisan tentang ini.
    ahsan bela diri yang memang gerakannya untuk perempuan..di thifan ada seperti ini…karena ini berkaitan dengan hormon yang akan timbul setelah itu tia.

    • mutianova Juni 17, 2012 pukul 12:44 pm Reply

      eh iya to mba siska. iya, kalo thifan ada tu yang khusus anak tapi paling deket di depok. tak terjangkau tempatnya. yang deket sini adana taekwondo.

  7. Athirah Juni 17, 2012 pukul 1:09 pm Reply

    tipe ilmu bela diri ada 2:
    1. menyerang duluan dan menahan serangan, contoh: karate, taekwondo (cmiiw)
    2. menahan serangan, contoh: aikido

    kalau kata abu asiyah, untuk perempuan cocoknya belajar aikido. gerakannya lembut, pelan, tapi lumayan menyakitkan lawan. saya pernah merasakan prinsip2 dasar gerakannya.

  8. ummu 'ashimah Agustus 18, 2012 pukul 2:05 am Reply

    assalaamu’alaikum.
    subhanallah, nafisa anak baik ya.. kalau ana sih, selama ini kalau ashima dinakali seringnya tak bawa pergi. mungkin karena dia masih kecil ya.. eh, tapi dia juga udah bisa membalas lho..

    • Ummu Nafisa September 9, 2012 pukul 11:54 am Reply

      sekarang udah ana ajarin mbalas mba dew, tpi balesnya ga boleh kenceng2, pelan-pelan aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: