Arsip Bulanan: Mei 2012

Anak Baik

Umi: “Mbak tadi kenapa nangis?”

Nafisa: “Tangannya dipukul Si H…”

Umi: “Kok Mbak ga bales mukul..?”

Nafisa: “Kan Mbak anak baik…”

^^
Saya bangga dengan Nafisa
Namun di sisi lain kadang saya bingung sendiri, apa Mbak akan mengalah terus kalau di nakali temannya, ataukah saya harus mengajari agar ia membalas perlakuan temannya?

Mau Kaya atau Miskin??

Kalau ditanya, manakah yang lebih mulia, orang miskin yang bersabar ataukah orang kaya yang bersyukur??

Apa jawabnya??

Ulama berbeda pendapat akan hal ini, ada yang berpendapat orang kaya yang bersyukurlah yang lebih utama karena ia di karuniai Allah kelapangan rezeki sehingga terbukalah pintu kemudahan menuju kemaksiatan, namun ia lebih memilih bertakwa pada Allah denagn menahan hawa nafsunya. Sebab inilah yang menyebabkan orang kaya yang bersuyukur lebih mulia.

Ulama lain berpendapat yang lebih mulia adalah Si miskin yang bersabar karena ia mampu bersabar dengan kesulitan yang menghimpitnya dan ganjaran bagi orang yang bersabar sangatlah besar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, bahwa siapapun mereka orang kaya ataukah orang miskin, yang lebih utama adalah orang yang paling bertakwa di antara mereka.

dan sekarang…
kalau ditanya, Anda memilih yang mana? Menjadi orang miskin yang bersabar atau orang kaya yang bersyukur???
heee….
Silahkan pikir sendiri.

Menumbuhkan PeDe

Nafisa, anak pertama saya ini berwatak kalem dan manut. Mudah diatur juga jarang bersikap nakal ala anak2, yah… palingan ‘nakal’ sekadarnya saja khas anak kecil. Kalau main dengan temannyapun, ia cenderung mengalah. Gak suka merebut mainan atau barang milik temannya, dan kalo giliran barangnya yang direbut dia hanya merengek pada saya atau menangis.
 
Sebenarnya Alhamdulillah ya punya anak yang manut dan mengalah begini, tapi kadang saya jadi mikir, kok nafisa ini gak berani ya.. apakah anakku ini pendiam dan pemalu alias minderan….?!
 
Membaca pengalaman salah satu ibu di TUM tentang caranya menumbuhkan kepercayaan diri anak semakin membuat saya berpikir lagi dan lagi bahwa nafisa ini memang pemalu. Pemalu sebenarnya bukan hal yang buruk apalagi untuk anak perempuan (katanya anak perempuan memang pemalu). Tapi yang terpuji adalah malu pada tempatnya.
 
Saya tidak ingin Nafisa jadi malu dan takut untuk ngapa-ngapain. Saya ingin dia tumbuh jadi anak yang berani tapi tidak sombong. Saya tidak ingin generasi kembali terulang, apa coba maksudnya hihihi, maksudnya saya ingin Nafisa punya kepercayaan diri yang lebih baik di banding saya. Maka karena hal itu saya tidak pernah me-label dia ketika marah. Saya sebut saja kesalahan dia apa agar dia ingat bahwa sikapnya adalah keliru. Hanya satu yang saya sering label, kemayu. Hahaha, dan saya rasa itu tidak apa-apa ya. Karena saya ingin dia percaya diri maka saya sering puji dia, Mbak anak pemberani, mbak anak pintar, Mbak anak rajin, dan seterusnya.
 
read more>>