Arsip Bulanan: Maret 2012

Kapan Kita Siap Mati?

kapan kita siap untuk mati?

kapan kita merasa siap menghadapi kematian?

ketika sudah jadi nenek/ kakek kelak?

atau bahkan beberapa tahun ke depan?

namun jika kita telah sampai waktu yang katanya kita siap menghadapi kematian, maka pasti kita ingin menundanya lebih lama lagi.

kita ingin lebih lama lagi tinggal di dunia ini.

lalu sebenarnya kapan kita siap untuk mati??!!

kita tak akan pernah siap menjemput kematian jika pikiran kita masih terus berputar pada hasrat dunia.

kaya. rumah mewah. anak-anak yang lucu. cucu-cucu yang mengemaskan.

kita selamanya tak akan pernah siap menghadapi kematian jika pikiran kita selalu penuh dengan ambisi dunia tapi kosong akan ambisi akhirat.

kita siap untuk mati ketika kita siap meninggalkan perhiasan dunia dan merindu akhirat.

merenung tentang kematian, obat tepat penyakit hati.

 

***

Abis baca pengalaman transplantasi hati/ liver pak Dahlan Iskan di sini. Oh, sangat mahalnya kesehatan. Ketika kita merasa miskin di dunia ini, renungkan bahwa ternyata kita punya liver/ hati yang sehat, jantung, pankreas,rahim, usus, lambung yang semuanya diberi kesehatan oleh Allah. Betapa nikmat yang teramat besar. Alhamdulillaahilladzii bini’matihi tahthimushsholihaat.

Iklan

Tentang Nafisa

Terinspirasi dari cerpennya mas Ahmad yang udah pinter nulis dan ngetik-ngetik. Tapi karena Nafisa belum bisa ngetik dan menulis dengan lancar, biar umm-nya aja deh yang bikinin cerpennya, hehehe…

Assalaamu’alaikum teman-teman, perkenalkan namaku Nafisah Az-Zahra. Umurku 33 bulan, berarti 2,5 tahun lebih ya.. ayooo coba di hitung lebihnya berapa…, hehee. Aku biasa memanggil diriku dengan sebutan ‘Mbak’, begitu juga Ummi dan Abi memanggilku.

Kata ummi, Mbak anak pinter karena rajin belajar, anak yang sholehah karena nurut Ummi sama Abi, dan anak yang rajin karena habis makan jajanan sampahnya Mbak buang sendiri ke tempat sampah, juga habis minum susu gelasnya Mbak taruh sendiri di dapur. Eh, Ummi juga bilang kalo Mbak anak kuat, anak pemberani, anak bertanggung jawab, anak cantik masyaAllah, anak apalagi ya…pokoknya banyak deh. Ummi gak pernah bilang Mbak anak nakal dan bandel meskipun kadang mulut ummi udah gatel deh ngucapin kata itu kalo Mbak emang lagi ngeyel dan nakal, ditambah lagi ummi yang lagi capek dan banyak kerjaan rumah.

read more>>

Cerita dari Sepotong Risoles

Kejadian ini begitu membuat saya ingin tertawa, kesal, sekaligus kecewa, tapi akhirnya membuahkan rasa senang dan tentram dalam hati.

Suatu hari, saya mempunyai rencana untuk jualan kecil-kecilan di kantin barunya BEM STDI Imam Syafi’i. Lumayan pikir saya, bisa ada tambahan masukan untuk belanja sehari-hari dan ikut meramaikan isi kantin yang sebagian besar ummahat lain juga menitipkan jajanan buatan mereka sendiri. Dan juga ada rasa puas dalam hati ternyata jajanan yang kita buat ternyata disukai pembeli.

Akhirnya saya pilih risoles. Sebenarnya, sebelumnya saya sudah menjajakan lumpia dan Alhamdulillah laris, namun saya ingin yang beda dan agak mahal sedikit sehingga keuntungan jadi lebih banyak karena risoles sendiri bikinnya cukup repot dibanding lumpia yang saya buat sebelumnya. Juga karena modal awalnya lebih besar. Saya bandrol dengan harga 1000 per potong risoles.

read more>>

Cerita Pagi

Pagi ini saya masak pagi-pagi sekali, begitu belanja langsung masak. Ini biar bisa mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Padahal perut ini terasa mual sejak bangun tidur, morning sickness. Tapi gak papa, masih bisa ditahan.

Mbak Nafisa sepertinya masuk angin secara kemarin sore kami pergi kajian dan baru pulang setelah Maghrib, padahal kondisi mbak sudah kurang fit saat itu, sepertinya mau flu. Ditambah hujan gerimis yang agak deras saat kami pulang kajian. Maka pagi ini terlihat jelas bahwa mbak akan sakit, mulai dari tidurnya yang mengigau sampai akhirnya,
 
“Hueeek..”, Mbak mau muntah.
 
Saya yang sedang masak buru-buru menghampiri. Saya dudukkan Mbak biar bisa muntah dengan leluasa di atas kain yang saya gelar. Tapi belum sempat Mbak muntah, perut saya seperti minta untuk muntah juga karena melihat Mbak yang mau muntah.
 
“Bi, tolong Nafisa nih, aku mau muntah.”
 
Sampai di kamar mandi, muntahlah saya sejadi-jadinya tapi karena memang pagi itu perut saya masih kosong maka tak ada yang keluar cuma huek-huek saja cukup lama.
 
“Lha, malah umi jadinya yang muntah”, kata suami. Si Mbak malah cuma muntah sebentar saja ^^.

read more>>

Rindu Sekali

Ingat rumah bercat krem itu

berdaun pintu hijau muda

bertuliskan ‘Raudhatul ‘Ilmi’ di daun jendelanya

 

Ingat anak tangga ke-tiga tempat kita bergantian duduk

loteng beratap langit biru saat sore hari kita bersua melepas lelah

memandang langit, mengamati awan

 

Ingat kayuhan pedal sepeda kita menuju rumah-rumah Allah

atau langkah kaki kita satu-satu menjemput hamparan majelis ilmu

meninggalkan jejak do’a berharap ikhlas dalam mencari ilmu dien

 

Ingat rumah bercat krem itu

berkumpul di dalamnya tangis dan tawa

khilaf dan maaf

nasehat dan sebuah ketundukan

semangat dan keinginan

 

Ah, rindu sekali…

bukan hanya sekali…